Perlindungan bagi pembela HAM: Revisited

Tanggal 7 September 2008 yang lalu, kita baru saja memperingati 4 tahun kepergian Munir Said Thalib, seorang pejuang pembela HAM yang menjadi korban dari konspirasi intelejen tingkat tinggi. Meskipun babak baru persidangannya sudah dimulai dan semakin mendekati terungkapnya pelaku utama dalam kasus ini, kejadian yang sebenarnya dalam kematian Munir nampaknya masih akan sulit untuk diungkap.

Peringatan kepergian Cak Munir diatas mengingatkan kembali kepada kita tentang pentingnya keberadaan instrumen hukum nasional yang mampu memberikan perlindungan hukum bagi pembela HAM atau yang juga disebut sebagai human rights defender. Oleh karena itu Penulis merasa perlu untuk melihat kembali (revisiting) isu ini. Gagasan tentang perlindungan ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, pro dan kontra tentang perlu atau tidaknya juga sudah banyak diperdebatkan. Lalu mengapa pembela HAM menjadi khusus dan perlu mendapatkan perlindungan khusus? Sedangkan untuk melakukan pembelaan-pembelaan hukum kasus HAM misalnya, seorang advokat telah mendapatkan perlindungan profesi yang cukup sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita terlebih dahulu perlu untuk meninjau definisi yang sering digunakan untuk menjelaskan ”pembela HAM” dalam Declaration on the Right and Responsibility of Individuals, Groups and Organs of Society to Promote and Protect Universally Recognized Human Rights and Fundamental Freedoms. Di dalam deklarasi ini disebutkan bahwa: “Everyone has the right, individually and in association with others, to promote and to strive for the protection and realization of human rights and fundamental freedoms at the national and international levels”.

Kata “everyone” diatas menegaskan bahwa tidak ada batasan profesi, posisi ataupun status seseorang dalam memiliki hak untuk melakukan pembelaan HAM. Sehingga jelas setiap orang yang melakukan kegiatan pemajuan dan penegakan HAM merupakan “pembela HAM” tanpa memandang jenis pekerjaannya, apakah dia seorang advokat, aktivis HAM ataupun bukan.

Lebih lanjut lagi, sama dengan sifat dari HAM yang fundamental maka aktivitas pembelaan HAM menjadi bersifat fundamental pula. Artinya, tanpa adanya instrumen hukum yang mampu memberikan perlindungan hukum bagi aktivitas pembelaan HAM, maka pemajuan dan penegakan HAM nyaris hanya akan menjadi angan-angan belaka. Hal ini karena pada kenyataannnya meskipun pasal 28I ayat (4) Undang Undang Dasar 1945 dengan tegas menyatakan bahwa perlindungan, pemajuan penegakan, dan pemenuhan HAM adalah tanggungjawab negara, namun dalam banyak kasus – negara sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap pemenuhan HAM telah gagal melaksanakan kewajibannya.

Berlarut-larutnya penyelesaian hukum terhadap korban lumpur panas Porong- Sidoarjo, bebasnya pelaku penembakan petani Alas Tlogo dari tanggungjawab atas pelanggaran HAM dan terjadinya pangabaian hak-hak hukum terhadap tersangka oleh Kepolisian Jombang hanyalah contoh sederhana dari kegagalan-kegagalan negara tersebut. Dengan demikian, diperlukan adanya pembela-pembela HAM untuk mengawasi, mendorong dan memastikan pelaksanaan kewajiban negara ini. Oleh karena dilatarbelakangi oleh kegagalan negara dalam menjamin perlindungan, pemajuan penegakan, dan pemenuhan HAM itulah maka perlindungan khusus bagi pembela HAM menjadi sangat mendesak dan penting.

Alasan lain pentingnya perlindungan bagi pembela HAM adalah fakta bahwa negara tidak saja telah gagal dalam memenuhi kewajibannya memberikan perlindungan, pemajuan dan pemenuhan HAM sebagaimana dijelaskan diatas, namun lebih dari itu negara juga telah tidak mampu dan tidak selalu mampu melakukan pengawasan yang efektif sehingga orang-perorangan maupun organ-organ pelaksana tugas negara dapat secara sadar ataupun tidak melakukan perbuatan melanggar HAM dengan alasan kepentingan negara ataupun alasan pribadi.

Berlindung dibawah kekuasaan negara orang-orang ataupun organ-organ ini telah secara melawan hukum menggunakan kekuatan dan kewenangannya dalam mengancam, mengintimidasi bahkan sampai menggunakan kekerasan yang menimbulkan kematian terhadap para pembela HAM. Pembunuhan Cak Munir yang menyeret orang BIN ke persidangan, penembakan petani Alas Tlogo oleh tentara Marinir dan pemberhentian pemberian fasilitas kehidupan dasar oleh PT Lapindo Brantas kepada pengungsi di pasar porong adalah sedikit dari contoh tindak kekerasan fisik dan non fisik terhadap pembela-pembela HAM.

Bila saat ini di Indonesia para advokat, dokter, perawat, akuntan, insinyur dan banyak profesi penting lainnya telah dilindungi oleh instrumen hukum agar terhindar dari ancaman dan gangguan dalam menjalankan tugasnya – lalu mengapa pembela HAM yang menjalankan tugas mulia memperjuangkan perlindungan, pemajuan penegakan, dan pemenuhan HAM yang beresiko menghadapi ancaman-ancaman kekerasan fisik dan non-fisik tidak mendapatkan perlindungan hukum yang layak?

Terdapat beberapa alternatif untuk mewujudkan gagasan perlindungan hukum bagi pembela HAM ini. Beberapa pihak merasa perlu untuk dibuatkan instrumen hukum khusus yang mengatur masalah ini, sehingga dapat menjadi aturan khusus (lex speciali) yang menguatkan pengakuan terhadap kedudukan pembela HAM di Indonesia. Beberapa pihak lainnya merasa tidak perlu dibuat aturan khusus dan merasa telah cukup bila menambahkan aturan perlindungan terhadap pembela HAM kedalam amandemen terhadap Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Secara hukum masing-masing pendapat diatas dapat menimbulkan akibat hukum yang berbeda tentunya. Namun menurut hemat Penulis perdebatan tentang instrumen hukum nasional yang tepat bagi pembela HAM tidaklah begitu penting. Hal yang lebih penting dalam gagasan ini sebenarnya adalah ada atau tidaknya political will dari pemerintah dan DPR. Bila saja negara mau mengakui kelemahannya dalam memenuhi kewajiban konstitusionalnya untuk memberikan perlindungan, pemajuan penegakan, dan pemenuhan HAM – gagasan mewujudkan perlindungan terhadap pembela HAM akan menjadi lebih mudah.

Leave a comment

Filed under HAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s